Menjadi PNS berjiwa Pengabdi

Desember 16, 2008 pukul 9:29 am | Ditulis dalam UMUM | 4 Komentar
Tag: , , , , ,

ImageHost.org

Tiga bulan terakhir ini beberapa instansi pemerintahan (departemen dan pemerintah daerah) melaksanakan rekruitmen pegawai. Dan seperti halnya penyelenggaraan rekruitmen pada tahun-tahun sebelumnya, antusiasme warga begitu tinggi untuk ikut serta dalam kegiatan yang selalu dinanti ini. Yah,bagi sebagian besar warga negeri ini (termasuk saya) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih menjadi salah satu favorit pilihan pekerjaan disaat minimnya peluang kerja di negeri ini akibat carut-marutnya perekonomian dunia akhir-akhir ini.

Dari obrolan dengan beberapa teman (sesama peserta test CPNS), ada beberapa alasan –banyol– (saya menyebutnya begitu karena semua dilontarkan dengan ngawur, khas bahasa cangkrukan) yang mengemuka mengenai “masih favoritnya menjadi PNS” dikalangan para pencari kerja, antara lain :

  • Jaminan kepastian dalam bekerja.

Artinya selama seorang PNS tidak bertindak yang neko-neko ( misalnya makar terhadap negara, bertindak kriminal, dsb), pasti dia tidak akan diberhentikan oleh negara. Asalkan ia bersikap sebagai warga negara yang baik,ia akan berhenti dari jabatannya saat ia memasuki masa pensiun. Berbeda sekali dengan pegawai swasta yang saat ini ketar-ketir menghadapi kemungkinan “PHK” disaat perekonomian sulit. Terlebih dengan sistem “outsourcing” yang menjadikan para pekerja akrab dengan ungkapan “habis manis sepah dibuang”.

  • Jaminan kesejahteraan di ujung usia.

Mendapatkan tunjangan pensiun disaat kemampuan fisik sudah mulai menurun, merupakan salah satu hal yang yang diperhitungkan para pencari kerja untuk menjadikan PNS sebagai pilihan. Walaupun mereka tahu untuk hal itu ada konsekwensi bahwa PNS bergaji pas-pasan, dan akrab dengan fasilitas “kredit”.

  • Alasan prestisius.

Kalau saya boleh menyebutnya alasan “gaya”, gengsi”, dan “status sosial”. Bagi beberapa kalangan menjadi PNS bukan lagi karena motif ekonomi, melainkan untuk menaikkan/ menjaga status sosial. Bagi beberapa orang yang secara materi tercukupi, mereka ingin menjaga /meningkatkan status sosialnya menjadi “priyayi” dan salah satu jalannya adalah menjadi PNS itu. Maka tidak heran apabila saat test CPNS kita menjumpai banyak peserta yang datang dengan diantar mobil mewah. Padahal untuk membeli mobil seperti itu, dengan gaji PNS adalah suatu impian saja. Dengan gaji PNS secara riil kita cuma akan mendapatkan kendaraaan bermotor roda dua baru,…itupun dengan fasilitas kredit.

  • Kerjanya nyantai.

Itulah alasan terakhir yang dikemukakan salah seorang teman ngobrol saya. “Kerja jadi PNS itu gampang Fudz, masuk kantor jam 8 pagi dan pulang jam 2 siang…nyantai, kita jadi banyak waktu dengan keluarga…. “ seloroh teman saya. Mendengar ucapan teman ini saya senyum-senyum sambil bergumam dalam hati…. betul juga.

Terlepas dari semua alasan yang dikemukakan dari hasil cangkrukan diatas. Ada suatu hal yang yang harus di ingat-ingat oleh semua para peserta test CPNS (termasuk saya tentunya) bahwa seorang Pegawai Negeri Sipil adalah seorang abdi negara. Sebagaimana halnya seorang abdi dalem di lingkungan istana yang harus siap menderma baktikan / mengabdikan diri kepada sang Sesuwun (raja), begitu pulalalah PNS harus siap menderma baktikan diri untuk Negara sebagai Sesuwunnya. Para PNS harus mempersiapkan diri, menanamkan mental/ sikap siap memberikan pelayanan yang terbaik bagi rakyat dan bukannya minta untuk dilayani. Sekali lagi karena secara harfiah PNS adalah abdi, pembantu, pelayan, maka berikanlah pelayanan dan pengabdian semaksimal mungkin.

Ada suatu cerita di zaman Rasulullah yang dapat dijadikan sumber hikmah bagi kita dalam melaksanakan tugas/ pekerjaan, termasuk pengabdian sebagai abdi negara. Pada Waktu itu Rasulullah SAW baru pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut banyak orang. Begitu beliau datang, ada seorang penjual air yang mendekati Nabi SAW hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Rasulullah SAW tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tangan penjual air itu untuk dicium.

Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi SAW merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi SAW bertanya,

“Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Orang itu menjawab, “Yaa Rasulullah, kerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual kepasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Saat Rasulullah SAW hendak mencium tangan itu, beliau berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada“, ‘inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Sedikit pengggalan kisah itu diatas kiranya dapat menjadi motivasi bagi kita untuk lebih dapat menghargai apapun profesi yang kita lakukan. Niatan tulus untuk memberikan nafkah yang halal bagi keluarga yang kita cintai kiranya adalah modal dasar bagi kita untuk dapat menjalankan profesi kita sebaik mungkin. Bagi kita (termasuk saya tentunya) yang berharap menjadi PNS dan mereka yang sudah menjadi PNS, tidak inginkah kita (amiin) atau mereka memberikan pelayanan terbaik, bekerja dengan semaksimal mungkin sebagai seorang abdi?. Tidak inginkah tangan-tangan kita terselamatkan dari api neraka dengan pengabdian yang tulus?….

Mari kita renungkan bersama….

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya ingin sekali…
    Insya Allah..

  2. Alhamdulillah…saya jadi terharu pak….
    kiprah saya sebagai maaf PPNS (pegawainya Pegawai Negeri Sipil)memang direndahkan, padahal saya tulus walau honorarium yang saya dapatkan jauh dari gaji guru GTT namun semangat untuk menjadikan tempat saya mengabdi tak akan pernah lekang oleh jaman…
    hanya semangat jihad…

  3. @mas teddy:
    Begitulah mas… Terkadang kita, ketika berada diluar sistem sanggup berbicara sumbang guna menyampaikan kebenaran. Namun ketika menjadi bagian dari suatu sistem kita menjadi “ayem” seperti krupuk yang dianginkan. Semoga mas Teddy(mas Luqman, tepatnya) tetap istiqomah menjaga semangat jihad dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik. Amiin.

  4. Menjadi PNS memang dambaan banyak orang. Tapi banyak PNS yang tak bisa dijadikan profil dambaan. Memang tak mudah menjadi PNS dengan tetap mengedepankan jiwa pengabdian. Terkadang justru hal itu jadi bahan olok-olokan di antara teman PNS. Memang saat di luar sistem, kita bisa tetap idealis, tapi saat sudah masuk, sungguh banyak godaannya. Dan banyak teman-teman saya yang tergoda.

    Mohon doanya agar saya tetap diberi jalan yang Ia ridhai dalam bekerja sebagai PNS, agar rezeki yang saya peroleh betul-betul halal dan berkah.

    Kunjungan balik, Mas Mahfudz. Terima kasih sudah mampir di blog saya.

    @racheedus:
    Amiin…mudah-mudahan bapak dapat menjalankan amanah yang mulia itu dengan sebaik-baiknya. Terima kasih atas kunjungan baliknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: