Hantu itu bernama UAN

April 24, 2009 pukul 4:28 pm | Ditulis dalam Pendidikan | 8 Komentar
Tag: , , ,

ghost2

Rina baru saja pulang dari acara do’a bersama (istighosah) di sekolahnya. Setelah beberapa bulan ini disibukkan dengan berbagai macam try out/ uji coba, pihak sekolah mengajak Rina dan teman-temannya sesama siswa kelas 9 untuk melakukan usaha batin” dengan menggelar acara do’a bersama . Ujian Akhir Nasional (UAN) bagi siswa/siswi SMP dan MTs memang sudah mendekati hari H , dan hampir enam bulan ini Rina disibukkan dengan dengan berbagai persiapan jelang UAN tersebut. Ceramah agama serta motivasi yang disampaikan mubaligh pada acara do’a bersama itu, agaknya masih belum bisa menghilangkan raut kecemasan yang tampak di wajah Rina.

Kalau beberapa minggu ini kita mengamati, banyak kejadian “caleg stress’ karena gagal dalam pemilu 9 April kemarin. Maka kalau kita jeli, kita juga akan banyak menjumpai kejadian seperti halnya yang dialami Rina pada ilustrasi diatas. Banyak siswa yang mengalami kecemasan atau lebih ekstrim bisa juga dikatakan stress dalam menghadapi UAN. Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat umum maupun di kalangan praktisi pendidikan sendiri. Banyak pihak yang pro dan tidak sedikit pula pihak yang kontra dengan pelaksanaan UAN, terutama dengan penentuan standar kelulusan yang setiap tahun terus mengalami perubahan.

Secara pribadi saya tidak terlalu kaget dengan kondisi kebijakan pendidikan di negeri ini. Sistem pendidikan, terutama di tingkat pendidikan dasar sampai menengah menurut saya merupakan bahan praktikum bagi para “birokrat pendidikan” negeri ini. Kemajuan sering kali diidentikkan dengan dinamisasi/perubahan. Sehingga para birokrat tersebut berusaha mencapai status kemajuan tersebut dengan mengadakan berbagai macam perubahan kebijakan. Walaupun pada akhirnya anak didiklah yang menjadi korban kebijakan tersebut.

Penentuan standar kelulusan membuat pihak sekolah memberikan tekanan kepada guru-guru pengajar bidang studi UAN untuk dapat mengoptimalkan segala upaya demi tercapainya persentase kelulusan 100%. Tekanan ini mengakibatkan guru-guru tersebut mengalami perubahan orientasi mengajar. Guru-guru lebih berupaya bagaimana caranya para siswa mampu mengerjakan tipikal soal-soal UAN dengan mengkesampingkan sejauh mana konsep-konsep pelajaran itu diserap oleh siswa. Sehingga kita temui banyak siswa yang “pragmatis”. Siswa yang pandai mengerjakan soal, namun lemah dalam pemahaman konsep-konsep materi pelajaran itu sendiri.

Dari sisi siswa, mereka tentunya paling banyak mengalami tekanan. Harapan yang besar dari orang tua akan keberhasilan dalam UAN adalah beban pertama yang mereka sandang. Kebijakan sekolah yang terkadang kurang tepat dalam mengkondisikan siswa menghadapi ujian menjadikan siswa mendapatkan tambahan beban psikis yang cukup berat. Sehingga dapat kita temui siswa-siswa yang “grogi” sebelum ujian. Ibarat tentara yang kehilangan semangat tempur karena fisiknya terkuras habis di medan latihan, bukan di medan tempur yang sebenarnya. Dari semua kondisi ini tidaklah salah kalau dikatakan UAN adalah hantu yang bergentayangan menakuti komponen pendidikan negeri ini.

Sudah hampir 64 tahun bangsa ini merdeka. Namun kita masih tertinggal dalam hal pendidikan dari negara-negara tetangga yang merdeka setelah negara kita. Kita masih terus bereksperimen menemukan sistem pendidikan yang tepat untuk negara kita. Kita masih berkutat dengan permasalahan UAN yang nyata-nyata mejadi hantu sistem pendidikan kita. Bukankah para pemimpin bangsa saat ini merupakan produk pendidikan tempoe doeloe yang tidak mengenal standarisasi UAN. Tidak mampukah para pakar pendidikan negeri ini menyusun konsep sistem pendidikan yang “Indonesia banget”, nyata sesuai kondisi riil masyarakat kita?. Perlukah kita menyewa Pasukan GHOST BUSTER untuk mengusir hantu bernama UAN itu dari sistem pendidikan kita?.

Iklan

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Secara pribadi saya tidak menolak sistem UN sendiri.
    Namun sistem UN saat ini belum tepat dilaksanakan mengingat standariasi dan perlakuan yang diterima ditiap sekolah sangat berbeda, antara kota dan desa.
    UN ibarat memberikan pelatihan dan ujian cara menggunakan traktor kepada para nelayan. Hal yang belum nyampung.
    Perbaiki dulu sistem pendidikan di “hulu”, maka angka-angka standar kelulusan baru bisa diterapkan.

  2. @nusantaraku:
    Itulah…..standarisasi kan sama dengan penyamarataan. Kalau menurut hemat saya, sesuatu bisa distandarkan/ disamaratakan kalau perbedaanya tidak terlalu jauh. Coba anda bayangkan , sebuah Sekolah Berstandar Internasional “distandarisasi dengan ukuran yang sama dengan sebuah sekolah yang ada di pedalaman Papua?…Layakkah??

  3. Yah…gak layak-lah.
    Hulunya masih berantakan, mau standarisasi hilir. Memang kurang relapan.
    Ceritera Laskar Pelangi hendaknya menjadi masukan besar bagi birokrat, bukannya “meminjam” pemain Film Laskar Pelangi dalam iklan sekolah gratis dibesar-besarin, sementara fondasi pendidikan mendasar tidak diiklankan…:)

  4. wow…disini ternyata ada pesta kecil membahas masalah UAN
    hiii…ngeri pasti datang tak diundang, pulang tak diantar
    betewe,…salut pak atas pemikiran sampean
    viva pendidikan

  5. @budi:
    Pak Budi, gimana kalo kita sodorkan saja “tema UAN” ini ke Rizal Mantovani/ Jose Purnomo saja, agar dibuatkan skenario layar lebarnya. Saya sudah punya usulan “nama filmnya” yaitu UAN; Hantu nakal di sekolah.
    Pak Budi…. ada alternatif judul lain yang lain????

  6. UAN tetap penting sebagai evaluasi apakah murid memang layak lulus dan melanjutkan ke jenjang berikutnya, atau untuk bekal mendapat pekerjaan. Pendidikan di negara lain, standarnya justru tinggi sekali. Saya ingat, saat saya mahasiswa, ada beberapa mahasiswa dari negara tetangga….saat itu ditingkat persiapan saja DO nya banyak, hampir 50 % nya. Guru besar di Institut itu mengatakan, karena ingin mendapatkan kualitas terbaik…nahh memang kualitas berkorelasi dengan standar mutu tertentu.

    Entah kenapa, saya bingung, kok kayaknya UAN menjadi momok. Dan anehnya, di keluarga saya, dilingkungan kantor saya, orang2 tak meributkan UAN anaknya, karena mereka adalah ibu2 pekerja, yang setelah pulang bekerja menemani anaknya belajar. Dan waktu yang ada digunakan untuk mengajar anaknya, sehingga sejak kelas 1 (entah kelas 1 SMP atau SMA) telah dipersiapkan agar naik kelas dan nantinya lulus dengan memuaskan. Yang jadi momok bukan UAN nya, namun adalah apakah nanti bisa masuk diperguruan tinggi negeri yang kualitasnya baik? Ini lebih sulit dibanding UAN, yang dengan belajar dan mempersiapkan diri peluangnya untuk lulus lebih besar, dibanding peluang untuk masuk PTN.
    (saya dulu telah mengajar anak-anakku, sejak mereka kelas 1, setiap hari harus disiplin membuat jadual yang telah disepakati bersama, kapan belajar dan kapan istirahat)

    Mohon maaf jika pandanganku berbeda, setelah membaca beberapa blog tentang hantu UAN ini, saya mencoba mencari tahu pada tetangga, teman, lingkungan terdekat, bahkan keluarga di kampung, di luar Jawa, dan mereka semua mengatakan hal sama dengan saya. Entah saya yang salah menilai atau apa ya?

  7. uh…… UN in bkin kita makin sotres! mkn banyak bebn yg kita tanggung! usulanku sich. sebaikx UN in jangan d jadikan sebgai satu2x standar untk menentukan lulus tdknya siswa.

  8. HANTU BARU YA ATO UDAH LAMA.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: